Modal Nekat Ku memutuskan
Kisah Ini bermula ketidak sengajaanku
menjadi asisten dosen, kalau dibilang nilai saya pas-pasan untuk melamar
menjadi asisten dosen, hmmm, malah bisa dikatakan pas dibawah passing grade he
he, betapa tidak, temen temen yang lain dengan IPK diatas 3,25 keatas,
boro-boro IPK 3,25, IPK 3,00 aja saya tidak nyampe, tapi semua itu saya tepis
dengan modal nekat.
Berawal dari dari perlombaan alat
peraga fisika dan akhirnya saya dan teman-teman yang bisa dikatakan gila, iya
gila akan kesintingan, kesintingan yang sangat unik dan menggelitik untuk
diceritakan, nama team saya dan sahabat sahabat saya yaitu Kobiro, Kobiro
sendiri memiliki nama panjang yaitu Koko (Saya sendiri) Ibie dan Rokhim, saya
sangat senang sekali menemukan sahabat seperti mereka, kenapa tidak, pernah saya
putus asa dan tidak akan melanjutkan studi di universitas gara- gara masalah klasik
yaitu keuangan, yaaaahhh :(
Nahsaya bingung nih ceritanya berawal dari mana,
mau menceritakan letupan-letupan keajaiban yang pernah saya alami, ya sudah
deh langsug saja cerita akan saya mulai ketika saya semester pertama, kuliah itu
menurut saya kayak asem manis lemon tea, berangkat dari kampung nan jauh,
mungkin pembaca sudah tau dan mungkin bahkan familiar ditelinga kalian, yaitu
tepatnya di desa sokopuluhan tempat saya tinggal,. Yaaah tidak begitu jauh sih,
paling 2,5 jam perjalanan jika menempuh memakai sepeda motor,
Eiiittt,. Tunggu dulu pada semester
awal saya tidak pernah memakai motor, karena motor satu satunya yang saya
punyai saya jual untuk membiayai awal kuliah, ya tidak seberapa tapi rasanya
seneng banget, karena saya bisa kuliah, motor yang saya jual yaitu motor grand
astrea pastinya kalian tau sendiri berapa harga seken motor astrea tersebut,
Awal masuk kuliah yaitu ospek, woooow
ada pengalaman unik dan tak pernah saya lupakan sampai saat ini yaitu pas waktu
itu saya, shincan, didik dan blodor bercakap cakap dengan seorang bapak- bapak,
kemudian saya di sapa bapak itu, perawakanya selalu memakai peci, agak gemuk,
berkacamata tapi tidak gemuk amat, “pagi dek sapa bapak yang berpeci itu ke
saya dan teman teman saya” seraya saya pun membalas dengan senyuman dan
menjawab juga, tanpa ragu saya Tanya ke bapak tersebut “ bapak bolehkah saya
meminjam koranya?” tentu, ini dek,
dengan menyodorkan Koran kepada saya, terus deh saya ngomong panjang lebar
ngalur ngidul, ya pas waktu itu saya berfikir ah bapak yang satu ini kok aneh
ya, masa’ OB gayanya beda dengan yang lain, sudah memakai peci dan pegang
Koran, eh tau- tau saya ditanya “adek mahasiswa baru ya? Saya pun menjawab iya
pak, lha ada apa pak? Sekena saya menjawab,. bapak berpeci itu Tanya lagi “bukankah
kalau ospek harus pakai bajuhitam putih ya dek, saya agak curiga dengan orang
ini, dalam fikiran saya *ah OB masa’ mngurusi hal itu, makanya saya tidak
menjawab, dan selang beberapa menit saya pamit dan mengembalikan Koran
tersebut.
Dan pada saat itu ternyata bapak tadi
yang saya kira OB itu ternyata salah satu dosen matematika dan beliau sekarang
kabarnya jadi wakil rector buju busyeeet deh malunya saya, tapi sekarang saya bersyukur dari pengalaman
itu, yaitu jangan menilai orang dari covernya, berenampilan sederhana, tapi pas
beliau pidato saat itu saya disinggung gara-gara tidak memakai hitam putih,
karena baju yang saya pakai bermotif garis-garis. Ospek yang penuh kenangan
yang menyenangkan,
Dihari kedua ospek saya menemukan
sahabat saya yaitu moh sohibi, dia berpenampilan kayak professor, mempunyai tubuh
pendek seperti saya kriting dan dia pinter banget, akhirnya saya cocok dengan
gaya dia, di hari ketiga angkatan saya fisika 08 di bagi menjadi beberapa
kelas, sekitar ada 40-45 mahasiswa, di situ kami seluruh mahasiswa di kasih
tugas, yapzz tugas pertama yang disuruh adalah membuat karya ilmiah, mungkin
itu tidak asing bagi saya, karena sejak SMA saya ikut KIR (Karya Ilmiah Remaja)
yang member tugas itu kalau tidak salah namanya weni, tentunya mahasiswa senior
he he cantik lho orangnya dan dosen pak wawan,
Keesokan harinya karya ilmiah
tersebut dikumpulkan, dan ternyata saya di panggil maju, yang dipanggil itu 3
orang, dimulai sejak itulah saya suka menulis, tapi tidak bisa mengetik, karena
tidak punya computer, *mengenang jaman dahulu he he,..
ceritanya bersambung guys,... masihhhhhh banyak lagiiiii dan tentunya lebih seru


0 komentar:
Post a Comment