Blog ini adalah catatan pelajar yang menyukai traveler

Thursday, April 9, 2015

Masjid Agung Jawa Tengah dalam sisi engineer


        Sore itu habis main ke Semarang daerah Medoho, kebetulan saya sekolah di bogor dan kalau akan pulang ke Pati biasanya mampir ke semarang dulu. Dua tahun tinggal di Bogor sendiri. Di sini saya tidak membahas siapa yang membangun, kenapa dibangun, berapa biayanya….?
        Saatnya kita mengulas masjid utamanya, kubah masjid ini cukup besar dan luarnya berwarna putih, kubahnya menggunakan konsep cangkang atau shell dan sepertinya menggunakan beton bertulang, sebenarnya untuk kubah selain menggunakan beton bertulang bisa juga menggunakan GRC, tetapi memang klo menggunakan GRC ada resiko terjadinya kebocoran, tetapi proses pemasangannya akan lebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan beton bertulang yang harus menggunakan cetakan bekisting yang presisi karena klo tidak, akan menyulitkan pekerjaan finishing nantinya. Di dalam masjid, ada lampu gantung yang cukup besar dan berat menggantung pada kubah, ini berarti ada konsentrasi beban titik yang cukup besar yang membebani konstruksi cangkang dan harus ada pendetailan khusus di lokasi gantungan lampu biar tidak terjadi kegagalan geser atau punching shear pada konstruksi cangkang.
        Untuk masjid biasanya akan diusahakan untuk meminimalkan jumlah tiang atau kolom apalagi yang di tengah, hal ini sebenarnya kolom yang ada tidak memecah barisan shaft shalat. Akibatnya jarak antar kolom dibuat cukup lebar satu sama lain. Untuk memaksimalkan kesan megah dan luas, lantai dibuat tinggi. Lantai yang tinggi membuat kolom menjadi kolom langsing, kategori kolom langsing bisa dilihat di SNI Beton. Bentang kolom yang lebar membuat ukuran pelat menjadi besar juga, waffle slab menjadi struktur yang paling tepat untuk bentang 2 lebar (struktur waffle slab kita bahas nanti ya…).
         Untuk segi interior dan eksteriornya terbilang cukup mewah karena menggunakan material marmer dan pemasangannya menggunakan pola yang cukup detail sehingga waktu pemasangannya butuh waktu yang cukup lama. Ornamen-ornamennya saya rasa juga cukup detail. Satu hal yang menarik menurut saya, orang tidak boleh tidur-tiduran di lokasi masjid karena memang masjid tempat untuk ibadah bukan tempat untuk tiduran. Bagi yang ingin tiduran disediakan tempat tersendiri di samping masjid semacam pendopo untuk istirahat.
        Di setiap tempat yang saya singgahi saya berusaha untuk mendapatkan manfaat dan ilmu baru. Sebagai seorang Engineer saya suka mengamati yang berhubungan dengan dunia saya. Pertanyaan mengapa sering saya kedepankan dalam pikiran saya, mencari jawaban logis dan konsepnya. Jika tidak menemukan jawaban saya biasanya bertanya pada dosen yang saya anggap ahli di bidang yang ingin saya tanyakan, buku, ataupun dari internet. Rasa ingin tahu yang besar membuat saya merasa semakin mencintai dan bangga akan profeai sebagai Engineer.

Proud to be Engineer


0 komentar:

 

Blog Archive

Translate

BLOG INI DILINDUNGI DMCA