Memang impian bisa hilang? Bisa jadi. Dulu pas ketika kecil, kita semua punya impian. Atau kalau tidak salah, dulu namanya cita-cita. Lalu masing-masing dari kita membuat cerita yang terperinci tentang apa yang menjadi cita-cita kita. Kita menjadi sangat bersemangat saat itu.
Seorang anak kecil, semakin lama ia dibiarkan menceritakan cita-citanya, maka akan semakin mendetail apa yang ia ingin capai ketika ia dewasa kelak. Terkadang impian seorang anak kecil tidak hanya terpaku pada profesi yang ingin ia capai, namun mungkin ada juga semacam kegiatan amal yang ingin dilakukan dan juga perjalanan ibadah bersama orang yang dia sayangi dan cintai.
Lalu, untuk kita yang sudah dewasa atau yang sedang proses beranjak dewasa, masih ingatkah kita tentang impian-impian kita di masa kecil?
Mungkin sekarang kita bisa mencoba untuk mengingat-ingat kembali apa saja impian-impian kita saat kita masih kecil. Mungkin di antara kita ada yang bisa mengingat 15 impian di masa kecil, atau ada yang 75 impian, dan bahkan ada yang hingga ratusan impian. Kaget? Saya juga merasa kaget yang ternyata impian waktu kecil saya pun ada begitu banyak.
Pasti sebagian besar dari impian masa kecil kita sudah ada yang dicapai dan dirasakan oleh kita sekarang. Lalu, pasti masih ada sisa yang belum dicapai, entah itu untuk masa yang sudah dilampaui atau masih bisa ada kemungkinan untuk kita capai. Tapi pasti ada di antara kita yang sebagian mimpi masa kecilnya hilang karena ada saja yang terlupakan.
Kita bukanlah seorang anak kecil yang bermimpi lagi. Impian bukanlah suatu goals. Karena goalshanya menjadi sebuah milestone dalam perjalanan hidup kita. Tahap demi tahap sudah kita lalui, mulai kita kecil lalu ke fase remaja dan menjadi dewasa. Dan semua itu nantinya mengarah pada impian masa kecil kita.
Mari sama-sama kita rinci perjalanan hidup kita mulai dari saat kita membuat impian masa kecil. Kita bersekolah. Mungkin di antara kita ada yang bersekolah dengan beasiswa, ada juga yang dibiayai oleh orangtua, ada juga yang membiayai uang sekolahnya dengan hasil kerjanya sendiri. Lalu, kita mulai membuat impian untuk mendapatkan nilai tertinggi di setiap matapelajaran di sekolah, dan kita mulai belajar dengan tekun. Inilah salah satu contoh goal. Dari nilai-nilai tinggi itu, kita akhirnya memiliki impian untuk menjadi ranking teratas di kelas dan semua itu tercapai. Ini juga adalah goal.
Dengan prestasi kita di sekolah hingga ke perguruan tinggi dan menjadi sarjana, kita lalu mengincar posisi tertinggi di perusaahaan tempat kita bekerja. Kita akhirnya bekerja dengan baik, mendapatkan banyak pujian dari atasan dan rekan kerja, hingga akhirnya kita dipromosikan untuk menjabat menjadi kepala bagian atau manajer. Inilah goal kita untuk kesekian kalinya.
Dengan keuangan kita yang baik, akhirnya kita mulai memberanikan diri untuk menginvestasikan uang kita pada sebuah usaha. Dengan pengalaman dan kerja keras kita, akhirnya kita sukses menjadi seorang pengusaha dan keluar dari jabatan di perusahaan tempat kita bekerja. Lalu, kita kembali mengumpulkan hal-hal besar dalam hidup kita. Goal demi goal sudah kita lampaui hingga kita berada pada posisi saat ini, bersama orang-orang yang kita sayangi dan cintai.
Perjalanan hidup di atas hanyalah sebuah ilustrasi. Masih banyak dari kita yang mungkin belum merasa sukses. Ya, saya sendiri pun demikian. Namun, dengan ilustrasi itu kita akhirnya sadar ketika kita tadi mulai mengingat impian masa kecil kita maka ternyata setiap langkah kita diarahkan menuju impian-impian tersebut. Lucu ya, semua itu seperti berjalan tanpa sadar dan rasanya seperti kekanak-kanakan. Namun setelah sekarang kita sadar impian masa lalu membuat kita menjadi kita yang sekarang, lalu kenapa kita tidak menemukan (kembali) impian-impian kita yang hilang?
semangatt,...


0 komentar:
Post a Comment