Kenapa tidak? Ini memang bukan teori ilmu pasti, namun aku percaya apa yang Tuhan kata. Manusia diciptakan berpasang-pasangan, kau dan aku salah duanya. Pasti ada alasan mengapa kita bersama hingga sekarang. Ada latar belakang yang kuat mengapa kita disatukan. Aku tahu, ini bukan saat-saat paling menyenangkan yang pernah kita hadapi. Belakangan, kita berdua kerap terantuk kerikil yang tak berhenti datang menghujani. Tentu aku pun pernah bertanya satu-dua kali: masih harus dilanjutkankah cerita yang kita bangun selama ini?
Namun aku tak percaya pada kebetulan. Kita pernah direstui oleh Tuhan, dan itu cukup meyakinkanku untuk bertahan.
Saat kita bertengkar hebat, kita lupa kenapa kita adalah sepasang kekasih. Ego yang begitu pekat pernah menutup mata dan menyumbat telinga. Melarang kita untuk mendengar. Kita hanya bisa mengencangkan otot leher demi berteriak dan berlomba-lomba untuk bertingkah keras kepala demi mengutarakan pendapat. Ya, mulut ini tak terbungkam, tak kenal lelah ia meracau dan melemparkan kata pedas yang memerahkan telinga.Rasa di hati tak pernah berniat mengepak koper dan beranjak pergi, apakah kamu juga merasakan hal yang sama?
Kau dan aku mendadak menjadi pribadi asing yang tak saling mengenal. Saling mementahkan pendapat, begitu pongah, dan merasa paling benar. Mungkin jika tembok bisa berbicara dan berjalan, dia akan menyerah kalah dan berjingkat keluar dari arena. Tak sanggup berada di satu ruangan dengan kita. Hanya hawa panas dan kebencianlah yang sedang beterbangan memenuhi udara.
Namun, kita tak memiliki keinginan sedikitpun untuk membalikkan badan dan pergi demi mencari sosok pengganti. Aku sudah terlalu nyaman berada di dalam rengkuhmu, begitu juga kau yang tak beranjak melepaskan diri dariku. Tanpa disadari kita telah saling mengisi. Pertengkaran, harus diakui, merupakan salah satu senyawanya.
11 Mei 2015


0 komentar:
Post a Comment