Aku mendekatinya beberapa langkah aku melihatnya lebih dekat lagi. Sang ibu masih bisa tersenyum saat aku meminta ijin mengambil fotonya. Ia mengangguk tanda setuju. sepertinya ia baru pertama kali dipotret. Beberapa gambar kuambil. sang ibu selalu tersenyum bayinya menatap dengan pandangan sayu. Mungkin belum makan atau minum pikirku. Jangan pernah berpikir bisa minum susu bubuk untuk anaknya. Air putih sudah cukup itupun dari sumur yang jauh dari syarat kesehatan. Terimakasih bu...salam buat keluarga ya..Sang Ibu hanya mengangguk ..saya tidak membawa uang untuk menyalamkan kepadanya..sekedar buat sarapan pagi.
Sang ibu lalu berjalan cepat meninggalkanku. Ibu perkasa nan mulia ini mengingatkanku kembali akan hakikat hidup...what do you looking for in your life..apa sesungguhnya yang anda cari dalam hidup ini? Pertanyaan yang pernah kuajukan pada diriku sendiri saat aku masih di semarang...saat masih mahasiswa mencari jati diri. Apa yang kau cari Suryanto?? Istana?? Gelar Sarjana?? Mobil mewah?? Jabatan??? Karir??? Uang??? Kekayaan melimpah ruah??? hmmmm
Setiap ibu akan melakukan apapun demi anaknya. Cintanya yang demikian besar tidak bisa dilukiskan dengan warna yang ada dikanvas lukisan. Kepalanya menjunjung barang yang berat, bahu dan dadanya menjadi gantungan gendongan anaknya, tangan kanannya menenteng barang bekas. Dari subuh hingga pagi hanya 10ribu rupiah diperolehnya. Siang akan berkeliling lagi. Malam juga. 30ribu saja yang diperolehnya setelah bekerja sehari semalam. Sangat kontras dengan pejabat negara kita yang hidup dengan tumpukan uang diatas kasurnya setelah membicarakan nasib rakyat. Membicarakan nasib seperti ibu dan anak ini. Ya...ditengah pekik keras para anggota DPR ...ditengah teriakan mereka atas nama rakyat digedung DPR sana..didepanku seorang ibu yang menggendong anaknya masih tersenyum melihatku. Tidak ada keluh kesahnya...tidak ada tangisnya..Ia tidak peduli dengan hiruk pikuk wakilnya diparlemen yang merebut masa depan anaknya untuk bisa hidup layak dan bermartabat. Ia hanya tahu bahwa kehidupan harus dijalani seperti burung burung diudara yang selalu bersiul dipagi hari meski buring tdk pernah menanam dan menuai.
Hidup sudah ada yang menjamin. Baginya hidup adalah untuk menghidupi kehidupan. Hidup untuk menghidupi kehidupan adalah tidak mencuri hak orang lain. Hidup untuk menghidupi kehidupan adalah tidak merampok milik orang lain. Dari sanalah asal kehidupan. Terimakasih ibu atas wejangan bisumu. Wejangan tanpa katamu menyadarkan kembali bahwa hidup untuk menghidupi kehidupan berarti selalu berarti bagi sesama. Berarti bagi sesama dalam lingkup lebih luas adalah bersama sama membangun bangsa dengan keberpihakan kepada semua anak bangsa. Terlebih kepada anak bangsa yang miskin menderita sepertimu.


0 komentar:
Post a Comment