Panen pun tiba, dengan suka cita saya diajak ke sawah bapak, disaat itu umurku sekitar 7 tahun, dan sebenarnya saya pun tidak terlalu suka dengan sawah, bukan berarti saya manja, tapi umur segitu lagi asyik-asyiknya main dengan teman sebaya, tapi bapak tidak memaksaku untuk membntu memanen padi, suatu ketika saya pun ikut dengan beliau, dan itupun saya main-main disawah, hanya nyari katak dan belalang serta main lumpur dan menaiki *luku yang menjadi motor utama adalah sapi, saya pun paling suka karena asik ketika menaikinya perasaan gembira dan girang ketika bapak membajak di sawah, asyik sekali kalau keingat moment itu,
Saat itu aku benar-benar merasa berharga. Seperti biasa, tak banyak kata yang beliau ucap. Tapi dalam diam itu aku tahu bapak sedang bicara denganku. Sedang berbisik lirih ke telingaku. “Nang, bapak menyayangimu, kamu hati-hati di Bogor, belajar yang bener, jadi hamba Allah yang taat, jalani semua takdirNya dengan ikhlas, sabar dan benar.
Bapak tak pernah berkata beliau menyayangiku, tapi aku tahu itu. Bapak selalu punya cara untuk berdialog denganku, walau tanpa kata, beliau mampu benar-benar memahamkanku. Beliau selalu punya cara untuk berbicara dengan anak terakhir yang keras kepala ini. Itulah bapak, sosok paling karismatik yang pernah kutemui di dunia. Aku mencintaimu bapak.
Pernah suatu hari saya diboncengkan bapak, naik sepeda onthel dari desa soko ke desa tegalwero melewati hamparan sawah dan angin sepoi-sepoi khas pedesaan, disitu bapak mengajakku untuk mencari sate kambing, kala itu sore sekitar jam 4:30 wib, senang sekali pokoknya, ya walaupun saya agak sedikit badung sih, tapi masih tahap wajar kenakalan anak-anak seusia 7 tahun, dan yang paling kuingat itu beliau setiap habis isya memutar radio kesukaanya.
Demikian beliau adalah sosok yang tegas, tak pernah toleran dengan kata disiplin. dibalik semua itu beliau adalah sosok yang sangat sabar, sangat penyayang dan sangat mengerti apa-apa yang anaknya inginkan.


0 komentar:
Post a Comment