Blog ini adalah catatan pelajar yang menyukai traveler

Wednesday, September 16, 2015

Diaspora antara


Hari ini aku bersukacita. Baju kemeja batik dan pantalon berwarna cokelat, yang dibuat khusus untuk melihat ketika kamu wisuda, diserahkan oleh penjahit, lalu baju itu saya gantung di balik pintu kost yang sempit. Tiga malam terakhir sebelum kamu diwisuda, kepalaku tambah pening.
Bagaimana tidak, tiket menuju semarang pun blum dapat, tapi hal itu tidak sama sekali melunturkan niatku untuk datang di acara sakral kamu, yaitu ktika kamu diwisuda. Sering tiba tiba aku terlompat bangun, bersimbah keringat, dadaku naik-turun. Ktika itu saya bermimpi buruk melihat cowok lain yang tiba-tiba menggandeng kamu pas acara wisuda, Mengerikan, cinta buta telah berubah jadi halusinasi, penyakit gila nomor dua puluh dua. 



Namun, lebih sering tengah malam aku bangun lalu berdiri di depan kaca, lama sekali. aku memandang diriku sendiri:   serius, dingin, dan penuh wibawa. Kadang ekspresinya seperti tak peduli tapi penuh antisipasi, kadang polos tapi berharap, kadang meringis minta dikasihani, dan kadang menceng-menceng tak keruan. Aku tahu, aku sedang melatih diriku untuk menunjukkan muka yang ceria dan bangga melihat dia diwisuda. 
Tampaknya aku berusaha keras, tapi aku gelisah karena tak mampu menerapkan muka yang ceria itu. Memang tak gampang menunjukkan wajah bersedia mengatakan jelita pada perempuan itu. Malam terakhir menjelang keberangkatanku menuju semarang, aku tak bisa tidur. Magrib saya bergegas menuju stasiun bogor. Sampai di stasiun bogor ramainya luar biasa, hiruk pikuk lautan manusia yang sibuk dengan kelelahan masing-masing. Matahari menanjak, masih pagi tapi langsung menggelegak. 

Aku sampai di semarang, tapi wajah tegang menyatakan bahwa saya telah kehilangan selera atas apa pun kecuali atas seorang perempuan yang akan keluar dari graha yang selesai diwisuda, lima puluh meter di depannya. Tepat Pukul setengah satu siang, saya tidak melihat sosok perempuan yang aku tuju, Pandanganku tak lepas dari ambang pintu graha. Aku berteduh di bawah pohon jarak, kira-kira dua meter dari posisi masjid IKIP PGRI Semarang, suspense menunggu peristiwa ajaib apa lagi yang akan terjadi dalam drama cinta saya dan kamu uL. 

Matahari kian panas, aku masih berdiri bak arca. Peluh bercucuran dari dahinya yang pucat karena tak tidur, membasahi kerah baju barunya. Rambut yang dilumuri Tancho hijau berlebihan mulai lepek. Lamat-lamat terdengar saya tidak melihat senyum perempuan itu, ahh, kau ini masih mencari dia ko? Tanya sahabatku rokhim, dan dia sambil menepuk pundaku sambil tersenyum,, 

0 komentar:

 

Blog Archive

Translate

BLOG INI DILINDUNGI DMCA