Kadang kita terlalu terburu waktu. memandang yang indah, seakan lupa akan segalanya pun sama dengan hawa dinginya kota bogor, saya pun mencoba menyedu kopi hitam dan menikmati kopi hitam yang aromanya membikin terhanyut nostalgia ketika masih sarjana waktu itu, aku memandangmu hanya lewat memoar bingkai dalam gambar dan sambil tersenyum di permukaan kopiku. dan kunikmati tiap senyum manismu..
kini, satu sisi hati, mungkin bisa kau tutupi. tapi kelak waktu akan murka pada senyummu. dan mungkin bisa tenggelam dalam rindu.. coba saja kau lihat di ujung malam, mungkin bintang sedang bersemangat menggoda kopiku. sayang, kopiku terlalu pekat dalam kesetiaan..terseduh kembali secangkir kopi panas, hitam,dan pahit. Saya pun terdiam sejenak, lalu untuk apa kau meminta kuseduhkan kopi disini, sedang kau hanya bercanda saja dan bergegas pergi. mungkin kopi pasrah, entah ampasnya..
harusnya kau telah jadi empu yang bisa senyumkan pedang rindu. bukan jadi prajurit yang hanya tebaskan nafsu.. sudah, mengendap sudah. pahit dan dingin. tapi kutelan meski perlahan. terucap ikrar penantian diaamiinkan kopi pahit yang selalu menjadi inspirasi, disudut pojok kamar atas perwira 06 disitulah saya menikmati kopi sendirian, kadang bersama teman- teman dan bercanda bebas seperti seduhan kopi yang,.. hmm, mngkin kalian bisa menafsirkan sendiri.
percayalah, aku tetap aku yang dulu, yang gemar mengakrabi hujan dengan secangkir kopi dan kenangan kenangan lama


0 komentar:
Post a Comment