*inspired by Rhenald Kasali, Self Driving*
Yes, simplicity is really a hardwork. Sebuah kalimat inspiratif yang akan saya bagi di tulisan ini, saya ambil dari tulisan Rhenald Kasali dalam bukunya, Self Driving. Apa yang beliau bahas tentang sebuah kesederhanaan dalam buku ini, menurut saya, sangat layak untuk dibagi dan disebarluaskan. Sebuah kesederhanaan yang kerap kali terlupakan dan lenyap dari pribadi banyak orang.
Albert Einstein adalah salah satu sosok yang mampu menciptakan sebuah kesederhanaan. Melalui sebuah rumus simpel E = MC2, Einstein berhasil menyederhanakan pengetahuan yang begitu kompleks. Einstein sendiri pun menyatakan “Menyederhanakan sebuah pengetahuan membutuhkan kerja keras.” Masih dalam pernyataannya sebagaimana ditulis oleh Rhenald Kasali, “Orang-orang yang pikirannya kusut dan kompleks bukanlah orang genius. Segala sesuatu harus disederhanakan, namun bukan berarti itu mudah.”
Orang yang simpel adalah orang yang cepat, sebagaimana korelasi ribet = lamban. Untuk pernyataan satu ini, saya pun setuju dengan Rhenald Kasali. Faktanya, anggapan “the more is better” tak sepenuhnya benar. Bayangkan saja ketika seseorang membawa barang banyak atau koper yang lebih berat dibandingkan dengan mereka yang hanya membawa tas ransel, siapa yang dapat bergerak lebih cepat? Tentu mereka yang hanya membawa tas ransel. Tren kehidupan saat ini sangat menuntut sebuah ‘gerak cepat’. Zaman di mana simplicity adalah sebuah kebutuhan dan segala yang complicated pasti sangat dihindari. Desain ornamentalis yang mulai berubah menjadi minimalis, program komputer yang berubah dari manual menjadi otomatis, dan segala teknologi yang complicated mulai merambah ke teknologi yang user friendly. Oleh karena itu, penyederhanaan sistem atau rule begitu penting terlebih menjadi pribadi yang simpel yang berawal dari diri sendiri.
***
Berlatih menjadi pribadi yang simpel
Pribadi gesit, simpel, tidak boros dan tidak bodoh adalah sekelompok sifat yang saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain untuk membentuk karakter driver. Dalam buku Self Driving ini, Rhenald Kasali menulis Sembilan langkah untuk yang menjadi patokan kita untuk berlatih menjadi pribadi yang simpel.
1. Berlatih Editing.
Mengedit bukan hanya untuk tulisan, tetapi diri sendiri pun perlu melalui proses edit ini. Lantas apa saja yang menjadi proses editing diri? Proses tersebut adalah hal-hal kecil yang harus dibiasakan terutama dalam berkomunikasi antara lain menggunakan kata-kata yang mudah dipahami lawan bicara, membuat kalimat yang tidak bertele-tele, mebuang bagian-bagian yang tidak perlu, dan lain-lain. Diharapkan, diri kita dapat membuat hidup orang lain pun menjadi simpel, sasaran atau tujuan kita menjadi jelas, dan kita lebih mudah menjalani segala misi dalam hidup kita.
2. Bersahabat
Seperti halnya teknologi yang semakin user friendly, diri kita juga harus lebih bersahabat dan menghargai terhadap banyak perbedaan. Selain itu, Rhenald Kasali juga menuliskan bahwa orang yang terkesan ribet, banyak pernak-pernik, dan berpenampilan yang cenderung menakutkan sangat terbatas aksesnya terhadap banyak orang dan terhambat melaksanakan pekerjaannya.
3. Predictable
Menjadi pribadi yang sulit ditebak sudah pasti membuat ribet orang. Apalagi, jika diri kita adalah seorang pimpinan atau atasan. Pemimpin yang sulit ditebak akan kesulitan untuk diikuti dan dipahami. Rhenald Kasali menyarankan agar diri kita berlatih menjadi orang yang predictable dengan cara konsisten terhadap ucapan dan kata-kata kita.
4. Sembunyikan
Cukup menarik analogi yang diberikan oleh Rhenald Kasali dalam salah satu langkah menjadi prbadi yang simpel, yaitu pisau lipat multifungsi “Swiss Army”. Pisau lipat multifungsi yang bisa terdiri dari 15 jenis alat seperti gunting kuku, pembuka botol, obeng, dan lain-lain ini tidak akan dapat dipakai sekaligus jika kesemuanya dibuka. Untuk menggunakannya secara efektif, cukup salah satu saja yang dibuka dan yang lain harus rela dilipat atau ‘disembunyikan’. Sama halnya dengan kehidupan kita, pengetahuan yang kita sampaikan secara bertahap akan lebih mudah dipahami oleh orang lain daripada pengetahuan yang disampaikan secara komprehensif sekaligus. Orang yang cerdas akan mengerti ilmu apa yang harus ia sampaikan dan rela ‘menyembunyikan’ ilmu lain yang dimilikinya agar lebih mudah dimengerti oleh orang lain.
5. Reduksi
Berlatih untuk menjadi pribadi yang simpel berarti harus berlatih untuk mereduksi yang kita pakai, salah satunya kurangilah pemborosan dalam memakai apapun. Memanfaatkan barang-barang yang dapat di recycle agar kita terbiasa hidup lebih sederhana, mudah dan bijaksana.
6. Tata dan Klasifikasikan
Mengorganisasikan pekerjaan, barang, maupun hal-hal lain di hidup kita agar lebih simpel, sistematis adalah sebuah keharusan bagi pribadi yang sederhana. Segala yang telah ditata dan diklasifikasikan dengan baik, akan memudahkan kita sendiri ketika harus mencari dan mengintegrasikan barang-barang kita misalnya.
7. Berikan Petunjuk (navigasi)
Langkah yang satu ini terkait dengan cara kita memberi pengarahan dan petunjuk kepada orang lain. Petunjuk yang jelas dan tidak berbelit-belit pasti akan memudahkan orang untuk memahami dan mengikutinya.
8. Sederhanakan Barang-Barang Bawaan Anda
Poin yang satu ini cukup mencambuk diri saya pribadi. Sebagaimana ditulis oleh Rhenald Kasali dalam beberapa kalimat berikut : Jangan menjadikan hidup Anda dikendalikan oleh banyaknya hal yang Anda inginkan dengan kesempurnaan yang tak bisa Anda kerjakan sendiri. Buatlah hidup menjadi lebih sederhana dengan tidak terlalu banyak menuntut terhadap segala kekurangan. Ingatlah, kesempurnaan yang terlalu dipaksakan akan tak berguna bila harus mengorbankan terlalu banyak waktu.
Rangkaian kalimat tersebut membuat saya cukup terhenyak terutama ketika mengingat diri saya yang kerap membawa cukup banyak barang terutama ketika harus bepergian dan menginap. Mulai saat ini latihlah diri kita untuk menyederhanakan barang-barang bawaan kita. Masih dalam tulisan Rhenald Kasali yang juga cukup mencambuk diri yang satu ini : Orang yang membawa terlalu banyak barang bawaan mencerminkan cara berpikir yang tidak simpel, kurang pengalaman, atau bisa juga dipandang sebagai orang yang ribet dan mengesankan greedy.
9. Sederhanakanlah Gelar-Gelar Anda
Untuk langkah yang satu ini, saya cukup sering mendengar beberapa pihak membahasnya. Mengenai gelar yang kerap kali ‘merepotkan’ bagi sebagian orang karena beberapa orang sangat ingin gelar akademisnya dipajang di mana-mana sampai di undangan pernikahan sekalipun. Saya juga sangat setuju dengan Rhenald Kasali bahwa cukuplah gelar itu hanya dipakai untuk kegiatan-kegiatan akademis saja, semisal mengajar, memberi pelatihan, atau karya yang dipublikasikan.
10. Latihan Bersyukur
Inilah langkah terakhir yang tak kalah pentingnya dalam berlatih menjadi pribadi yang simpel dan sederhana. Bersyukur. Menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan yang pasti menyederhanakan segala keinginan yang tak mampu sempurna dengan obsesi yang kompleks. as simple as that :)


0 komentar:
Post a Comment